Templates by BIGtheme NET
Home » Aqidah » Apakah kita Terjangkiti Penyakit Riyaa’?

Apakah kita Terjangkiti Penyakit Riyaa’?

10997159_341376696068704_698881380_n

Bismillahirahmanirahim,
اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَـةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh,

Penyakit yang sangat berbahaya ini… mengakibatkan hancurnya amalan dan menjadikannya seperti debu yang berterbangan tidak bernilai.

Betapa banyak amalan yang telah kita kumpulkan selama bertahun-tahun (bisa jadi puluhan tahun) dan bisa jadi sudah bertumpuk amalan tersebut setinggi gunung… akan tetapi ternyata semuanya hancur lebur tidak bernilai sama sekali di sisi Allah.

Allah berfirman :
كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا
Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan (QS Al-Baqoroh : 264)

Menyambung tulisan sebelumnya, merupakan perkara yang semakin menjadikan kita mudah terjangkiti penyakit riyaa’ yaitu karena sifat dasar kita manusia adalah ingin dipuji dan ingin dihargai.

Sungguh kenikmatan yang dirasakan tatkala dipuji dan dihormati sangatlah besar…sangatlah lezaat…, jauh lebih besar dari kenikmatan-kenikmatan yang lain… bahkan jauh lebih nikmat dari nikmatnya memiliki harta berlimpah.

Tidaklah mengherankan jika didapati seseorang yang mengorbankan hartanya yang begitu banyak untuk disedekahkan, bahkan mungkin hingga ratusan juta.. hanya demi untuk dihormati dan dipuji dan dikatakan sebagai dermawan.

Disebutkan dalam hadits tentang tiga orang yang riyaa’ yang pertama kali didzab di neraka (yaitu orang yang mati syahid, orang yang berilmu, dan orang yang dermawan), maka Allah mengatakan kepada mereka bertiga, \”Apa yang kalian lakukan dengan kenikmatan yang telah Aku berikan kepada kalian?\”, maka mereka bertiga menjawab, \”Kami beramal ikhlas karena Engkau yaa Allah\”. Maka Allah membantah mereka dengan berkata, \”Kalian dusta, akan tetapi kalian beramal supaya dikatakan (oleh masyarakat) sebagai pemberani…, supaya dikatakan sebagai orang alim…, supaya dikatakan sebagai dermawan, dan sungguh telah dikatakan demikian…\” (HR Muslim no 1905).

Sungguh masyarakat benar-benar menyangka mereka bertiga adalah orang-orang sholeh yang banyak beramal, dan masyarakat menyebut-nyebut mereka, akan tetapi semua itu hanyalah semu, karena pada hakekatnya amalan mereka tidak bernilai sama sekali.
Bahkan…bukan hanya tidak bernilai akan tetapi malah menyebabkan mereka menjadi orang-orang yang pertama diadzab di neraka jahanam.

Ada seseorang bertanya kepada Nabi :
الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً فَأَيُّ ذلك في سَبِيلِ اللَّهِ؟
\”Seseorang berperang karena membela sukunya, ada yang berperang karena menampakan keberaniannya, dan ada yang berperang karena riyaa’, maka manakah diantara mereka yang fi sabiilillah?\”

Dalam riwayat yang lain:
فإن أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا
\”Sesungguhnya salah seorang di antara kami ada yang berperang karena marah?” (HR Al-Bukhari no 123),

Dalam riwayat yang lain:
الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُذْكَرَ وَيُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ من في سَبِيلِ اللَّهِ
\”Seseorang berperang untuk mencari gonimah (harta rampasan perang), seseorang berperang agar dikenang, dan seseorang berperang agar nampak kedudukannya (dalam hal keberanian dan kepahlawanannya), maka manakah di antara mereka yang fi sabiilillah?\” (HR Al-Bukhari 2958)

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
من قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ في سَبِيلِ اللَّهِ
\”Barangsiapa yang berperang agar perkataannya Allah-lah yang tertinggi maka itulah yang fi sabiilillah\” (HR Al-Bukhari no 7020).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, \”Yaitu hujan yang deras tersebut menjadikan batu yang licin tersebut bersih, yaitu tanpa tersisa sedikitpun tanah sama sekali, bahkan seluruh tanah telah sirna. Maka demikianlah amalan-amalannya orang-orang yang riyaa’ akan hancur dan sirna di sisi Allah, meskipun yang nampak pada orang-orang, mereka memiliki amal sebagaimana tanah (yang nampak di atas batu licin tadi). Oleh karenanya Allah berfirman ((mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan))\” (Tafsir Ibnu Katsiir 1/319)

Ini merupakan permisalan yang sangat menghinakan kita yang beramal karena riyaa’. Menyangka bahwasanya telah mengumpulkan amal yang banyak. Bahkan bukan hanya kita yang menyangka demikian, tetapi orang-orang yang melihat kita juga menyangka demikian, menyangka bahwa kita adalah orang-orang sholeh yang memiliki banyak amalan. Akan tetapi ternyata amalan kita dimusnahkan oleh Allah dengan sekejap..
Na’uudzu billaahi min dzaalik, kita berlindung kepada Allah dari kehinaan ini.

Inilah hal yang sangat menyedihkan dan menyakitkan serta sangat menghinakan, tatkala kita beramal dengan riyaa’ menyangka bahwasanya kita telah mengumpulkan amal dengan sebanyak-banyaknya, dan kita telah berbangga dengan hal itu, bahkan masyarakat menyangka diri kita sebagai orang sholeh dan memujinya, namun ternyata pada hakekatnya amalan kita tidak bernilai sama sekali di sisi Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan riyaa’ dengan syirik yang samar, yang tidak nampak oleh orang lain, dan juga menimpa seseorang terkadang tanpa ia sadari. Sahl bin Abdillah At-Tusturi pernah berkata:
لاَ يَعْرِفُ الرِّيَاءَ إِلاَّ مُخْلِصٌ، وَلاَ النِّفَاقَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ، وَلاَ الْجَهْلَ إِلاَّ عَالِمٌ، وَلاَ الْمَعْصِيَةَ إِلاَّ مُطِيْعٌ
\”Tidaklah mengetahui riyaa’ kecuali orang yang ikhlash, tidak mengetahui kemunafikan kecuali orang mukmin, tidak mengetahui kejahilan kecuali orang yang ‘alim, dan tidak mengetahui kemaksiatan kecuali orang yang ta’at\” (Syu’ab Al-Iiman karya Al-Baihaqi 1/188 no 6480)

Wallahua’lam.

Smoga kita selalu berusaha meraih keikhlasan yang senantiasa memperhatikan gerak-gerik hati kita, senantiasa mengecek kondisi hati kita, apakah hati ini berpenyakit riyaa atau ujub?!

Hanya Allah yang memberi taufiq.