Templates by BIGtheme NET
Home » Khazanah » Pendidikan Islami » Futur dalam Islam

Futur dalam Islam

Definisi Futur

a. Menurut bahasa: terhenti setelah berjalan atau diam setelah bergerak
b. Menurut istilah: penyakit yang mengenai seorang aktifis, paling rendah malas atau berlambat-lambat dan paling tinggi terhenti atau diam setelah rajin dan bergerak dengan semangat.

Sebab-sebab Futur

1. Berlebihan dan ekstrim dalam menjalankan agama. Rasulullah bersabda: “Waspadalah kalian dalam berlebihan dalam menjalankan agama, sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena berlebihan dalam menjalankan agama.” (HR Ahmad).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah dan tidak seorangpun yang berlebihan dalam menjalankan agama kecuali dia akan dikalahkan.” (HR Bukhari).
Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku dia tidak termasuk umatku.” (HR Bukhari Muslim)
2. Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi yang mubah. Allah berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
‘Aisyah berkata: “Bencana pertama yang akan menimpa umat ini setelah nabinya adalah ‘kekenyangan’. Sesungguhnya ketika kaum itu kenyang perutnya, badan mereka akan menjadi gemuk, maka hati nurani mereka akan menjadi lemah dan nafsu mereka akan menjadi besar.”
3. Berpisah dari jamaah dan suka hidup menyendiri. Allah berfirman: “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS 3: 103). Rasulullah bersabda: “Tetaplah dengan berjamaah dan waspadalah dengan perpecahan, sesungguhnya syetan itu lebih dekat dengan satu orang daripada dengan dua orang, dan barangsiapa yang menginginkan keindahan surga hendaklah tetap berjamaah.” (HR Tirmidzi)
4. Tidak mengingat kematian dan hari akhir kecuali sedikit. Rasulullah saw. bersabda: “Dulu saya telah melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarah kuburlah karena sesungguhnya ziarah kubur itu menjadi zuhud di dunia dan mengingat akhirat.” (HR Ahmad)
5. Lalai dalam melaksanakan amalan harian. Rasulullah bersabda: “Syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kepala kalian ketika kalian tidur, dalam setiap ikatan itu syetan meletakkan kata-kata: ‘engkau masih memiliki malam yang panjang, maka tidurlah.’ Jika dia bangun dan berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan, jika kemudian dia berwudlu lepaslah ikatan yang lain dan jika dia lanjutkan dengan shalat maka lepaslah semua ikatan. Maka pagi hari dia kelihatan segar dan sedang hati. Jika tidak dia kelihatan malas dan keruh hatinya.” (HR Bukhari-Muslim)
6. Masuk ke dalam perutnya sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang subhat. Allah berfirman: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS 2: 168).
Rasulullah bersabda: “Setiap jazad yang tumbuh dari sesuatu yang dibenci (haram) maka neraka lebih utama baginya.” (HR Tirmidzi)
7. Seseorang yang hanya terfokus hanya satu sisi saja dalam masalah agama. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2: 208)
8. Melupakan sunnatullah dalam alam semesta dan kehidupan ini.
9. Melupakan hak badan disebabkan karena banyaknya beban serta tugas dan sedikitnya aktifitas. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban untuk Tuhanmu, untuk dirimu, dan untuk keluargamu, maka tunaikanlah kewajibanmu sesuai dengan haknya.” (HR Bukhari)
10. Tidak siap dalam menghadapi kesulitan dalam perjuangan. Allah berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” (QS 3: 179).Dalam ayat lain Allah berfirman: “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS 29: 1-3)
11. Berteman dengan orang yang memiliki kemauan yang lemah. Rasulullah bersabda: “Seseorang itu sesuai dengan agama (akhlak) teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang dijadikan teman dekat.” (HR Ahmad)
12. Bekerja tanpa rencana, baik skala pribadi maupun jamaah.
13. Terjatuh pada kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama dosa kecil yang diremehkan. Rasulullah bersabda: “Waspadalah kalian akan dosa-dosa kecil, sesungguhnya jika dia terkumpul pada seseorang, dia akan membinasakan.” (HR Ahmad)

Dampak-Dampak Futur

1. Perbendaharaan kebaikannya hanya sedikit
2. Meninggal dalam keadaan su’ul khatimah. Rasulullah berdoa: “Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku di akhirnya. Ya Allah jadikanlah akhir dari amalku adalah ridlo-Mu, ya Allah jadikanlah sebaik-baik hariku adalah hari dimana aku bertemu dengan-Mu.” (HR Ibnu Sinni).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba beramal seperti amalnya ahli neraka, tetapi sesungguhnya ia adalah ahli surga. Dan sesungguhnya seorang beramal seperti ahli surga tetapi sesungguhnya dia adalah ahli neraka, sesungguhnya amal itu dilihat dari akhirnya.” (HR Bukhari)
3. Jalan kemenangan menjadi panjang
4. Banyak beban dan pengurbanan
5. Terhambatnya pertolongan Allah.

Cara Mengatasi Futur

1. Menjauhi perbuatan buruk dan dosa. Allah berfirman: “Makanlah di antara rezki yang baik yang Telah kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, Maka Sesungguhnya binasalah ia.” (QS 21: 81)
2. Selalu menjalankan amalan harian, serta selalu memanfaatkan waktu-waktu yang utama. Allah berfirman: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS 73: 1-5)
3. Tidak ekstrim dan berlebihan dalam beramal. Rasulullah bersabda: “Wahai manusia hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, sesungguhnya Allah tidak bosan sehingga kalian bosan, dan sesungguhnya amal yang dicintai Allah adalah amal yang kontinyu walaupun sedikit.” (HR Muslim)
4. Bergabung dalam naungan jamaah. Rasulullah bersabda: “Jamaah itu rahmat dan berselisih itu azab.” (HR Ahmad)
Alib bin Abi Thalib berkata: “Keruh dalam jamaah lebih baik daripada bersih tapi sendiri.”
5. Memperhatikan sunnatullah dalam diri manusia dan dalam alam semesta.
6. Bersiap dalam menghadapi rintangan-rintangan, yaitu secara mental telah memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan siap untuk mengatasinya.
7. Bekerja dengan cermat dan terencana, termasuk bisa menentukan skala prioritas dalam kerja.
8. Berteman dekat dengan orang-orang shaleh yang selalu mujahadah. Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah orang yang terbaik itu?” Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang yang ketika engkau melihatnya engkau akan mengingat Allah swt.” (HR Ibnu Majah)
9. Memenuhi kebutuhan badan
10. Menghibur diri dengan hal-hal yang mubah
11. Senantiasa mengkaji dan mempelajari buku-buku dan biografi orang-orang yang shaleh. Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS 12: 111)
12. Mengingat mati dan apa yang terjadi setelah kematian.
13. Mengingat surga dan neraka. Haram bin Hatsya berkata: “Saya heran dengan surga, bagaimana pencarinya masih bisa tidur? Dan saya terheran dengan neraka, bagaimana orang yang lari dengannya masih bisa tidur?” Kemudian beliau membaca ayat: “97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS: 7: 97)
14. Hadir pada majelis ilmu
15. Melaksanakan agama ini sesuai dengan karakternya yang menyeluruh dan konprehensif
16. Munasabah dan mengenali kekurangan diri. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 59: 18)