Templates by BIGtheme NET
Home » Khazanah » Pendidikan Islami » Marah dalam Islam

Marah dalam Islam

Definisi Marah:

Mendidihnya darah qalbu untuk mencari pelampiasan

1. Marah yang terpuji: yaitu marah karena melihat syariat Allah dilanggar
2. Marah yang tercela: marah yang penyebabnya bukan karena syariat Allah yang dilanggar.

Tentang Marah yang Tercela:

1. Merupakan kelemahan. Rasulullah bersabda: “ Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam gulat, tapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari-Muslim).
2. Marah itu sumber keburukan.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, wasiatilah saya.” Rasulullah bersabda: “Jangan marah.” Laki-laki tersebut berkata: “Saya berfikir ketika Rasulullah telah mengatakan demikian, ternyata saya mendapatkan bahwa marah itu merupakan sumber dari seluruh keburukan.” (HR Ahmad)
3. Marah adalah penyebab murka Allah.
Dalam sebuah hadits, ‘Umar bertanya kepada Rasulullah: “Apa yang akan menyelamatkanku dari murka Allah?” Rasulullah menjawab: “Jangan marah.”

Sebab-Sebab Marah

1. Mengingat dampak marah:
a. Buruk rupa
b. Keluar kata-kata yang tercela
c. Keluar perbuatan yang merusak
d. Melahirkan dendam dan hasud
2. Mengingat keutamaan menahan marah, rendah hati, pemaaf dan lemah lembut. Dalam sebuah hadits ‘Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Mahalembut dan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan pada kekerasan atau tidak diberikan pada yang lain.” (HR Muslim). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda kepada Asyajj Abdul Qais: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang keduanya disukai oleh Allah dan Rasul-Nya; yaitu rendah hati dan kelembutan. (HR Muslim).
3. Meninggalkan pembicaraan (diam). Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Jika seorang di antara kalian marah, hendaknya dia diam.” Rasulullah mengatakan demikian tiga kali. (HR Ahmad dan Abu Dawud).
4. Membaca Ta’awud. Dalam sebuah hadits: Dari Sulaiman bin Surad beliau berkata: “Dua orang sedang saling mencaci di hadapan Nabi, salah seorang dari mereka marah, mukanya memerah dan urat nadinya menggelembung. Rasulullah melihat pada mereka dan bersabda: ‘Saya mengetahui kalimat, andaikan dia ucapkan maka marah itu akan hilang. Yaitu: a’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (aku berlindung pada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.” (HR Bukhari Muslim).
5. Merobah posisi. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Jika seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah dia duduk, jika belum reda, hendaklah dia berbaring.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
6. Berwudlu. Dalam hadits Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaitan, dan sesungguhnya syaitan itu diciptakan dari api dan sesungguhnya api itu dipadamkan dengan air. Maka jika seorang di antara kalian marah hendaknya berwudlu.” (HR Abu Dawud).