Templates by BIGtheme NET
Home » Kajian Islam » Parfum bagi Perempuan Perspektif Hadist Nabi SAW

Parfum bagi Perempuan Perspektif Hadist Nabi SAW

perfume-spray

Parfum diciptakan manusia sejak zaman dahulu dengan tujuan untuk menghilangkan aroma tidak sedap atau sebaliknya, untuk menimbulkan aroma yang disukai dari dirinya. Tradisi menggunakan parfum sudah ada jauh sebelum Islam diturunkan di tanah Arab. Setelah Islam hadir, tradisi tersebut terus dilestarikan karena sesuai dengan fitrah manusia yang menyukai segala sesuatu yang baik dan indah. Tulisan ini akan mengkaji sabda-sabda Nabi SAW yang terkait dengan penggunaan parfum bagi perempuan.

Hadits pertama (sahih):

Dari Nabi saw, beliau bersabda, “Setiap (kebanyakan) mata melakukan zina, dan perempuan jika ia memakai parfum kemudian lewat di suatu majelis maka ia yang begini dan begini. Artinya ia seorang pelaku zina.”

Hadits tersebut diriwayatkan antara lain oleh al-Tirmidzy, Abu Dawud, al-Nasa’i dalam Sunan mereka dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya. Menurut al-Tirmidzy, Hadits ini berstatus hasan-sahih (al-Tirmidzy, al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Tirmidzy, Juz V, hlm. 106) dan al-Albany, menilainya sahih (Shahih al-Jami’, no. 4540).

Hadits kedua (dlaif):

Musa bin Yasar (berkata): suatu ketika seorang perempuan lewat di hadapan Abu Hurairah yang wewangiannya dirasakan oleh beliau, ia bertanya: “Hendak kemanakah engkau wahai hamba Tuhan yang Maha Perkasa?”, perempuan tersebut menjawab: “ke Masjid”. Abu Hurairah berkata: “Adakah engkau memakai wewangian untuk itu?” Ia menjawab: “Iya”. Abu Hurairah berkata: “Kembalilah engkau pulang dan mandilah, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah bersabda: “Allah tidak menerima shalat eorang perempuan yang keluar menuju masjid sementara wewangiannya menyebar semerbak hingga ia pulang kembali dan mandi”.

Hadits tersebut diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya. Mayoritas sanad dalam kitab-kitab tersebut melewati jalur ‘Ashim bin Ubaydillah. Imam Bukhari menilainya munkar al-Hadits, (Abu Ishaq, Ahwal al-Rijal, Juz I, no. 241). Aly al-Madiny berkata, “Kami telah menyebutkan kedaifan Ashim menurut Yahya bin Sa’id.” (Abu Hatim, Kitab al-Jarh wa al-Ta’dil, Juz III, no. 1917). Ibnu Hibban menyebutnya katsir al-wahm atau sering salah (al-Dzahaby, Mizan al-I’tidal, juz II, no. 4057).

Menurut al-Albany, ‘Ashim adalah seorang yang daif, nemun ketika beliau menilai jalur riwayatnya Ibnu Majah yang juga melalui ‘Ashim, beliau menilai Hadits tersebut hasan-sahih. Beliau berkata, “Meskipun ia daif tapi la ba’sa bih, karena jalur Ashim ini banyak mutabi’nya.” (al-Albany, al-Silsilah al-Shahihah, juz III, no. 1031). Termasuk mutabi’nya adalah sanad-sanad tanpa ‘Ashim di atas.

Hadits ketiga dan keempat (sahih):

Dari Zaynab istrinya Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Apabila salah satu dari kalian menghadiri masjid, maka janganlah kalian memakai parfum.”

Hadits di atas diriwayatkan salah satunya oleh Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim.

Dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah kalian melarang para hamba Allah dari kaum perempuan untuk mendatangi masjid-masjid, hanya saja hendaklah mereka keluar dalam keadan tidak memakai prfum.”

Hadits di atas diriwayatkan antara lain oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya. Hadits ini memiliki dua syawahid, yaitu dari jalurnya ‘Aisyah dan Zaid bin Khalid al-Juhany, dan memiliki banyak mutabi’.

Menurut al-Arnauth Hadits ini berstatus sahih, sedangkan sanadnya hasan (Musnad Ahmad, Juz II, hlm. 438). Kemudian Hadits yang bersumber dari Zaid dan ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dinilai shahih li ghairih. Imam Nawawi berkata, “Hadits yang melewati jalur Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah itu memenuhi syarat shahihayn (Kitab Shahih Bukhari dan Muslim).”

Hadits kelima (hasan):

‘Aisyah Ummul mu’minin bercerita, ia berkata, “Kami (istri-istri Nabi saw) keluar bersama Nabi SAW menuju Makkah, dan kami melumuri wajah dengan misik wangi untuk ihram. Jika salah seorang dari kami berkeringat, air keringatnya mengalir di atas wajahnya (membentuk guratan-guratan), Nabi SAW melihatnya dan tidak mecegahnya”.

Hadits di atas diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (Juz VI, no. 79). Hadits ini, sanadnya dinilai hasan oleh al-Arnauth. Al-Mundziry mengatakan la ba’sa bih (al-Shan’any, Fath al-Ghifar, Juz II hlm. 988).

Hadits keenam (hasan):

Rasulullah bersabda, “Parfum laki-laki adalah yang aromanya kuat tapi warnanya tersembunyi. Parfum perempuan adalah yang warnanya kelihatan jelas tapi aromanya lembut.”

Hadits tersebut diriwayatkan antara lain oleh al-Tarmidzy dan al-Nasa’i dalam Sunan mereka. Pada Hadits nomor 2787 al-Tirmidzy berkomentar bahwa Hadits tersebut berstatus hasan, karena ada salah seorang perawi yaitu al-Thafawy yang hanya beliau temui dalam riwayat Hadits ini, dan beliau tidak mengetahui nama asli perawi tersebut.

Pembahasan

Hadits pertama, yang menganalogikan pemakai parfum dengan pezina seakan mengisyaratkan keharaman mutlak. Namun jika diperhatikan lebih seksama, ada alasan lain yang menyebabkan Rasulullah SAW menganalogikan demikian yaitu sikap para perempuan pemakai parfum tersebut terhadap laki-laki yang mereka jumpai. Kalimat ‘kadza wa kadza’ menunjukkan suatu perbuatan yang identik dilakukan oleh para pezina pada waktu itu, sehingga mereka pantas disebut demikian. Perbuatan tersebut bisa berupa menggoda, berpakaian seronok, memancing hawa nafsu dan lain sebagainya. Jika dihubungkan dengan bagian Hadits selanjutnya maka maknanya kurang lebih: setiap mata melakukan zina sehingga jika ada seorang perempuan yang memakai parfum kemudian ia bertingkah sedemikian rupa sehingga menarik perhatian para lelaki maka ia juga adalah seorang pezina. Zina dalam Hadits ini harus dimaknai secara majazi (metaforis), yaitu perbuatan yang dapat menyebabkan terjadinya perbuatan zina.

Hadits kedua, ketiga, dan keempat mengisyaratkan larangan memakai parfum bagi perempuan namun dalam ruang yang lebih spesifik, yaitu masjid. Mengenai itu, banyak hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW berkaitan dengan pelaksanaan ibadah shalat ini mengingat begitu sakralnya ibadah tersebut dan membutuhkan konsentrasi tinggi sehingga gangguan sekecil apapun dapat mengganggu kekhusyukan shalat. Khusyuk adalah salah satu bagian terpenting dalam shalat -sedangkan bau-bauan adalah salah satu faktor pengganggu yang dominan selain suara. Oleh karena itu, Rasulullah SAW melarang orang yang memakan sejenis bawang untuk shalat berjamaah dengan larangan yang cukup keras, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang memakan buah ini yaitu bawang putih, maka hendaklah ia tidak mendekati masjid kami,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kesempatan lain beliau bersabda: “Barangsiapa makan dari tanaman yang berbau tidak sedap ini, maka hendaklah ia tidak mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim)

Larangan itu menunjukkan kekhawatiran Nabi SAW terhadap aroma yang menyengat apalagi aroma itu adalah aroma yang tidak sedap. Larangan Rasulullah SAW terhadap pemakai parfum dapat dimasukkan dalam analogi tersebut, karena aroma tidak sedap dengan aroma parfum yang menyengat sama-sama mengganggu; dan jika demikian maka larangan itu berlaku umum, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Hadits kelima dan keenam menunjukkan secara jelas bahwa para istri Nabi SAW memakai parfum ketika hendak berihram, perbuatan tersebut diketahui oleh Nabi SAW dan beliau tidak berkomentar sama sekali. Hadits ini adalah taqrir (ketetapan) dari Nabi SAW bahwa memakai parfum itu diperbolehkan baik untuk laki-laki maupun perempuan, baik ketika di tempat umum maupun ketika hendak melaksanakan ibadah di masjid dengan catatan tetap menjaga perilaku dan sopan santun serta dalam batas pemakaian yang wajar. Wallahu a’lam bisshawaab. [islamaktual/sm/auliaabdanidza]