Templates by BIGtheme NET
Home » Khazanah » Pendidikan Islami » Taubat dalam Islam (Bag3)

Taubat dalam Islam (Bag3)

3. Dosa Kecil yang Menjadi Besar

a. Dilakukan terus menerus. Rasulullah bersabda: “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.” Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS 3: 135).
b. Menganggap remeh akan dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin dalam melihat dosa-dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khawatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat dihidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR Muslim)
c. Bergembira dengan dosanya. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS 2: 206)
d. Merasa aman dari makar Allah. Allah berfirman: “Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS 58: 8)
e. Terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah bersabda: “Semua umatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah: seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: ‘Wahai fulan, semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.’ Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (HR Bukhari-Muslim).
f. Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah orang yang menjadi teladan. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang lain yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikitpun.” (HR Muslim).

Jalan Menuju Taubat

1. Mengetahui hakekat taubat. Yakni: menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minumnya, seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang.”
2. Merasakan akibat dosa yang dilakukan. Ulama salaf berkata: “Sungguh ketika saya bermaksiat pada Allah, saya bisa melihat akibat dari maksiat saya itu pada kuda dan istri saya.”
3. Menghindar dari lingkungan yang buruk. Seperti dalam kisah seseorang yang membunuh 100 orang. Gurunya berkata: “Pergilah ke negeri sana, sesungguhnya di sana ada orang-orang yang menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah di sana bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”
4. Membaca Al-Qur’an dan mentaddaburinya.
5. Berdoa. Allah berfirman mengisahkan Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 2: 128). Al-Maraghi berkata: “Yang dimaksud ‘terimalah taubat kami’ adalah: ‘Bantulah kami untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.’”
6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: “Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.”
7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba.
8. Mempelajari ayat-ayat dan hadits-hadits yang menakuti orang-orang yang berdosa.
9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat.