Templates by BIGtheme NET
Home » Khazanah » Pendidikan Islami » Tentang Riya’

Tentang Riya’

Definisi Riya’
Adalah mencari popularitas dan kedudukan dengan ibadah

Riya’ adalah Tercela:

1. Merupakan sifat orang munafik. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS: 4:142)
2. Termasuk syirik. Rasulullah saw. bersabda: “Yang paling saya takutkan kepada kalian adalah syirik kecil.” Mereka berkata: “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulallah?” Rasulullah bersabda: “Yaitu riya’. Di hari kiamat ketika para manusia telah mendapatkan balasan dari amal mereka, Allah berfirman: ‘Pergilah kepada yang kamu riya’kan (pamerkan) di dunia, lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka?’” (HR. Ahmad)
3. Menggugurkan pahala amal. Allah berfirman: “Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS 39: 65)
4. Penyebab siksa Allah. Lihat kisah dalam hadits tentang tiga orang yang dilempar ke neraka, yaitu seorang mujahid, seorang qari, dan seorang dermawan (lihat Riyadhus-Shalihin bab Riya’)

Sebab-sebab Riya’

1. Tidak mengenal Allah secara mendalam
2. Ambisi kedudukan dan popularitas. Seorang badui datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, seorang berperang karena fanatisme, atau karena keberanian, atau untuk menunjukkan kehebatan, mana yang termasuk sabilillah? Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah, dialah yang termasuk sabilillah.” (HR. Bukhari-Muslim)
3. Suka dipuji orang lain
4. Ambisi terhadap apa yang dimiliki orang lain
5. Takut dicela orang
6. Terlalu ketat dalam kontrol
7. Berteman dengan orang yang tidak baik

Cara Mengatasi Riya’

1. Mengingat akibat riya’
a. Akibat di dunia
1. Tidak mendapatkan hidayah dari Allah. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
2. Guncang jiwanya. Allah berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20: 124)
3. Tidak memiliki wibawa di hadapan orang lain
b. Akibat di akhirat
1. Gugur pahala amalnya
2. Mendapat siksa yang pedih

2. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya
3. Bersungguh-sungguh dalam menjaga fitrahnya
a. Jika berambisi terhadap kedudukan dan kekuasaan maka ia harus ingat bahwa kedudukan dan kekuasaan adalah amanat dari Allah dan nanti akan diminta pertanggung jawabannya
b. Jika senang dipuji orang lain maka ia harus ingat akan dampak dan penyakit pujian, yakni ujub, riya’ dan futur.
c. Jika ia ambisi terhadap apa yang dimilikii oleh orang lain maka ia harus ingat akan hakekat harta
d. Jika dia takut dicela oleh orang lain maka ia harus yakin bahwa mudlorot dan manfaat hanya ada di tangan Allah
4. Komitmen dengan adab-adab Islam dalam bermuamalah, tidak berlebihan dan tidak kurang dalam menghormati dan menghargai orang lain
5. Berteman dekat dengan orang-orang yang mukhlishin dan menjauhi orang-orang yang dikenal suka riya’
6. Banyak membaca nash-nash yang berkaitan dengan ikhlash dan melarang riya’
7. Menyembunyikan ibadah. Allah berfirman: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu) Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 2: 271).
8. Banyak berdoa. Dari Abu Musa al-Asyari, bahwa suatu hari Rasulullah sedang berpidato, beliau bersabda: “Wahai manusia, takutlah kalian akan syirik ini. Sesungguhnya dia lebih samar dari bekas kaki semut.” Para shahabat berkata: “Apa yang harus kita katakan dan bagaimana cara menghindarinya ya Rasulallah?” Rasulullah bersabda: “Bacalah: ‘Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami mohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’” (HR. Tabrani)