Templates by BIGtheme NET
Home » Berita » Ustadz Bachtiar Nasir: “Kongres Ini Mestinya Menghasilkan Sesuatu yang Bernyawa”

Ustadz Bachtiar Nasir: “Kongres Ini Mestinya Menghasilkan Sesuatu yang Bernyawa”

YOGYAKARTA : Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VI yang digelar di Yogyakarta berakhir pada Rabu (11/2/2015). Kongres yang diikuti 700 peserta itu mengambil tema “Penguatan Peran Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya Umat Islam Indonesia yang Berkeadilan dan Berperadaban”.

Dalam rilis yang diterima redaksi, 700 peserta yang mengikuti Kongres, terdiri dari pimpinan MUI di seluruh Indonesia, ormas-ormas Islam tingkat pusat dan daerah, perguruan tinggi, lembaga-lembaga Islam nasional dan internasional, pimpinan pondok pesantren, tokoh perorangan dari kalangan intelektual/cendekiawan Muslim, ekonom, politisi, dan undangan lainnya.

Kongres dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI pada 9 Februari 2015, dan ditutup Presiden RI pada 11 Februari 2015.

Apa urgensinya Kongres ini di tengah ketidakpercayaan umat kepada banyak pemimpin dan tokoh—yang notabene mengendalikan lembaga dan “ormas-ormas Islam besar” di republik ini?

Pembina AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir mengatakan masih berharap Kongres ini akan membawa perubahan yang sesuai dengan Islam dan harapan kaum Muslimin. Karena itu, kata Bachtiar Nasir, umat ini akan bergairah—dan tentu saja menaruh kepercayaan—jika hasil Kongres diwujudkan, sesuai dengan cita-cita: ‘Izzatul Islam wal Muslimin.

“Dan, tak ada artinya jika yang dihasilkan dalam Kongres ini tidak ada followupnya sebagaimana pada Kongres sebelumnya, Kongres ke-5,” ujar Bachtiar Nasir di hadapan wartawan, usai penutupan Kongres, Rabu (11/2). “Ini tanggung jawab kita semua,” imbuhnya.

Karenanya, Bachtiar Nasir berharap, Badan Pekerja Kongres ini jangan pernah putus asa untuk terus berjuang menyatukan umat. “Semoga pula Kongres berikutnya tidak dari awal lagi,” harapnya. “Apakah Kongres ini berhasil? Kita lihat pada Kongres 2019 mendatang. Kongres ini mestinya menghasilkan sesuatu yang ‘bernyawa’,” ujarnya.

Meski masih menaruh harapan Kongres ini akan menghasilkan sesuatu yang “bernyawa”, namun kekecewaan tak luput dirasakan pula oleh Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini. Ia menyatakan kekecewaannya lantaran dana Kongres di antaranya berasal dari Perindo, partai besutan Hary Tanoesoedibjo. (isa)